POLRES WONOGIRI – Kematian warga asal Desa Semagar, Kecamatan Girimarto berinisial Sd, 58, dengan sejumlah luka di tubuhnya pada Februari lalu, membuat pihak keluarga curiga. Keluarga yang merasakan adanya kejanggalan berharap muncul titik terang atas penyebab kematian Sd.

T, anak Sd, mengaku janggal dengan kematian ayahnya yang dikebumikan pada 28 Februari lalu. Dia menceritakan, kali terakhir bertemu Sd ketika mengantarkan sang ayah ke tempat penggergajian kayu di desa setempat. Menurut dia, saat itu sang ayah bertemu dengan seorang rekan kerjanya untuk diajak mengantarkan kayu.

“Saya antar pakai sepeda motor ke sana tanggal 27 Februari 2022 setelah Magrib. Kemudian saya tinggal,” kata dia saat ditemui di wilayah Kecamatan Girimarto, Senin (9/5).

Sekitar pukul 20.20, T mendapatkan pesan dari rekan sang ayah yang menanyakan posisi Sd. T pun sempat bingung.

Tak berselang lama, T juga mendapatkan pesan dari nomor sang ayah agar menutup pintu karena pada keesokan harinya berencana menyemprot tanaman di lahan pekarangannya. Namun, menurut T, gaya penulisan pesan sang ayah berbeda dibandingkan pada biasanya.

Menjelang tengah malam, T juga mendapatkan pesan dari temannya yang menanyakan gubuk di sekitar tempat penggergajian kayu belum dikunci. Padahal biasanya lokasi itu selalu digembok.

“Paginya saya WA tidak terkirim, saya telepon juga ndak bisa. Biasanya kalau nyemprot tanaman kalau tidak bawa kendaraan langsung pulang ke rumah lewat sawah. Tapi 28 Februari jam 07.30 kok belum pulang. Saya cari di tempat pakde saya juga tidak ada. Saya sudah bingung waktu itu,” terang T.

Setelah itu, dia mencari sang ayah di sawah. Namun dia tak menemukan sang ayah. Dia mencari sang ayah di tegalan sekitar tempat penggergajian kayu. T saat itu mencari sang ayah di bagian atas tegalan. T sempat memanggil ayahnya, namun tak ada suara sahutan.

Pikiran T pun mulai kalang kabut. Sekitar pukul 14.00, dia meminta sang bibi ikut mencari ayahnya dan turun ke tegalan.

“Setibanya di sekitar tempat penggergajian kayu, sudah banyak orang, mereka bilang ‘kae bapakmu‘. Motor langsung saya tinggal dan saya lari,” kata T.

Betapa shock perasaan karena melihat ayahnya sudah dalam kondisi meninggal dunia di sekitar tegalan, tak jauh dari tempat penggergajian kayu. Dia melompat dari atas tegalan ke lokasi sekitar ayahnya meninggal.

Tubuh Sd ditemukan dalam kondisi terduduk dan memegang botol pestisida kosong. Alat semprot pestisida berada tak jauh dari tubuh Sd. T mengaku sempat merasa janggal saat itu, namun pikirannya kalang kabut.

“Kondisi bapak saya saat itu sudah kaku. Mukanya biru kehitaman, bibirnya hitam. Tapi tidak bau pestisida ataupun busa. Di situ saya langsung panik,” ucap T.

Setelah itu, tubuh Sd langsung dibawa ke rumah. Saat dimandikan, T mengaku melihat sejumlah kejanggalan di tiga bagian tubuh ayahnya. Di antaranya di punggung tangan kanan dan di bahu kiri juga terdapat luka lecet. Menurut dia, orang lain yang memandikan ayahnya juga kemungkinan merasakan kejanggalan.

Lalu kenapa dia tak melaporkan ke polisi saat tubuh ayahnya ditemukan? T mengaku saat itu dia sudah kalang kabut dan bingung. Jenazah Sd pun langsung dikebumikan pada 28 Februari malam.

“Saya merasa janggal dengan kematian ayah saya. Saya belum lapor ke polisi, hanya memberikan informasi saja. Kalau kondisi keluarga juga harmonis, bapak juga nggak pernah cerita kalau punya utang. Baik ke saya atau anggota keluarga lain,” papar dia.

Sementara itu, saat dimintai komentar terkait adanya warga Desa Semagar, Kecamatan Girimarto yang merasa janggal dengan kematian anggota keluarganya Februari lalu, Kapolres Wonogiri AKBP Dydit Dwi Susanto mengatakan sudah memerintahkan satreskrim untuk melalukan pengecekan dan lidik terkait hal itu.

“Mohon doa restunya. Saat ini reskrim sedang bekerja,” kata kapolres singkat.

(Humas Polres Wonogiri Polda Jateng)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here